Indonesia Website Awards

Museum 1000 Moko, Kalabahi, Alor

Museum 1000 Moko adalah museum yang terletak di Jln. Diponegoro, Kota Kalabahi, Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. Museum ini diresmikan pada tanggal 4 Mei 2004 oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur saat itu, Piet A. Tallo.

Sejarah Museum 1000 Moko

Pada tahun 2003, Bupati Pemerintah Daerah Kabupaten Alor, Ans Takalapeta (menjabat tahun 2003-2013) berinisiatif untuk membangun sebuah museum untuk mengakomodasi keragaman yang ada di wilayahnya. Gedung Museum dua unit yang berada pada lahan seluas satu hektar ini dinamai Museum 1000 Moko. Penamaan 1000 Moko mengandung makna yang luas. Angka 1000 menunjukkan keberagaman potensi yang dimiliki Kabupaten Alor dilihat dari aspek sumber daya alam maupun kebudayaan. Penamaan itu juga bermakna bahwa Alor memiliki sejumlah besar moko yang adalah warisan leluhur untuk dilestarikan dan dijaga oleh generasi muda Alor. Moko adalah sejenis tambur yang bagian atas dan bawahnya tertutup. Benda ini digunakan sebagai alat musik dan mas kawin di kalangan masyarakat Alor sejak ratusan tahun silam.

Profile Singkat

Museum 1.000 Moko menyimpan beragam benda peninggalan pra-sejarah dan benda sejarah. Museum ini adalah salah satu bukti betapa budaya di pulau ini dapat begitu sangat beragam dan unik. Dinamai Museum 1.000 Moko karena Moko mewakili kebudayaan orang Alor dan dianggap sebagai benda adat yang bernilai budaya sangat tinggi. Sementara itu, angka 1.000 menunjukkan keanekaragaman suku sekaligus bentuk harapan masyarakat Pulau Alor.

Dalam sejarah peradaban Pulau Alor, moko digunakan sebagai belis atau atau mas kawin. Moko memiliki peranan penting bagi masyarakat Alor, yaitu kepemilikan terhadap jumlah dan jenis moko tertentu dapat menunjukkan status sosial seseorang. Di beberapa suku tradisional di Pulau Alor moko digunakan sebagai gendang untuk mengiringi tarian adat. Selain sebagai alat musik tradisional, dahulu Moko juga berfungsi sebagai alat tukar ekonomi masyarakat Alor. Hal inilah yang sempat menyebabkan inflasi di kawasan tersebut pada masa pemerintahan Hindia Belanda sehingga membuat sistem baru dengan membatasi peredaran Moko di Pulau Alor.

Sekarang Moko berfungsi sebagai peralatan belis atau mas kawin serta simbol status sosial. Dalam adat dan istiadat pernikahan masyarakat Alor, moko digunakan sebagai alat pembayaran belis atau mas kawin seorang laki-laki kepada calon isterinya, itu karena moko dipercaya dapat mengikat pernikahan. Hingga kini, adat menjadikan Moko sebagai mahar masih terus berlangsung. Suku di Alor yang masih menetapkan mas kawin dengan Moko adalah suku Darang (Raja), Tawaka, Kalondama, Kawali, dan Balomasali. Tinggi rendahnya status sosial dinilai oleh banyaknya Moko yang disanggupi saat membayar mas kawin.

Koleksi Museum selain Moko

Selain moko dan nekara, museum ini menampilkan benda-benda lainnya yang menunjukkan perjalanan sejarah suku bangsa Alor. Di museum ini disimpan juga pakaian tradisional masyarakat Alor, terutama cawat dari kayu, yang masih digunakan di kalangan masyarakat Suku Kabala, Alor Timur.

Benda koleksi Museum 1000 Moko hampir 80% diantaranya merupakan hibah dari koleksi pribadi seorang penduduk Kalabahi yang menyerahkannya pada Pemerintah Daerah Kalabahi saat ia pindah.

Sumber :

  1. Wikipedia
  2. Arsip Indonesia
Share your love
Edri Brow
Edri Brow

Founder of East Nusa Tenggara
Website Design, Media Sosial Manajemen dan Konten Kreator.

Articles: 71

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Budaya Wisata Pantai Kuliner