Kekayaan Budaya Kabupaten Nagekeo

Kota Mbay Kab. Nagekeo

Oleh Nur Fahrin Saputra MT

Kabupaten Nagekeo adalah salah satu Kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang terbentuk berdasarkan UU No. 2 Tahun 2007. Peresmian Kabupaten Nagekeo terlaksana tanggal 22 Mei tahun 2007 dan Kabupaten ini terbilang cukup muda berusia 17 Tahun karena baru terbentuk hasil dari pemekaran kabupaten ngada pada tahun 2007. Ibukota dari kabupaten nagekeo adalah mbay. Secara administrasif, kabupaten nagekeo terletak ditengah-tengah pulau flores, sebelah utara berbatasan dengan laut flores, sebelah selatan berbatasan dengan laut sawu, sebelah timur berbatasan dengan kabupaten ende dan sebelah barat berbatasan dengan kabupaten ngada.

Kota Mbay- Ibukota Kabupaten Nagekeo
Kota Mbay- Ibukota Kabupaten Nagekeo

Kabupaten Nagekeo menjadi jalur transportasi utama antara ujung timur pulau flores yakni Larantuka (ibukota kabupaten flores timur) sampai ke bagian barat flores yakni Labuan Bajo (Ibukota Kabupaten Manggarai Barat). Untuk luar pulau flores bisa menggunakan jalur laut yaitu melalui pelabuhan aimere, pelabuhan ende serta pelabuhan marapokot yang ada di ibukota kabupaten nagekeo. Sedangkan menggunakan jalur udara bisa melalui bandar udara So’a (Kabupaten Ngada) dan Bandar Udara Hasan Aroeboesman (Kabupaten Ende).

Kabupaten Nagekeo memiliki kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Mbay, sehingga memungkinkan kawasan ini berkembang menjadi pusat ekonomi baik berupa produksi, pengolahan, pendistribusian dan perdagangan hasil-hasil pertanian serta sumber daya yang dimilikinya mengingat posisinya yang sangat strategis berada ditengah-tengah pulau flores. Kabupaten nagekeo ini mengandalkan sektor pertanian, pertambangan penggalian serta industri sebagai penggerak perkembangan perekonomiannya.

Kabupaten nagekeo selain memiliki daerah lahan yang luas dan subur juga memiliki kebudayaan dan pariwisatanya yang cukup populer serta menjadi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Nagekeo. Kebudayaan kabupaten nagekeo meliputi tinju adat (etu), kerajinan tangan, rumah adat, tarian, kain tenun yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi serta peninggalan leluhur. Banyak sekali kebudayaan masyarakat kabupaten nagekeo yang bisa dimanfaatkan, dikembangkan serta dilestarikan agar bisa membantu perekonomian masyarakat serta menambah pendapatan asli daerah kabupaten nagekeo. Namun lambat laun semakin pudar rasa kecintaan generasi muda dalam melestarikan budayanya.

Sebelum lebih jauh kita mengenal terlebih dahulu kebudayaan masyarakat kabupaten nagekeo yakni salah satunya Etu. Etu adalah seremonial pagelaran tinju adat untuk uji kejantanan antara pemuda yang ada di Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dalam bahasa lokal, etu berarti tinju adat. Etu atau tinju adat ini tentu berbeda dengan tinju konvensional. Para petarung etu menggunakan kepo sebagai sarung tinju dimana kepo  ini terbuat dari anyaman ijuk, petarung hanya boleh memukul lawannya dengan satu tangan yang memakai kepo tersebut sedangkan tangan satunya lagi hanya digunakan untuk menangkis. Seremonial adat ini biasa dilaksanakan bulan juni-juli dan merupakan satu kesatuan dari serangkaian adat yang dilakukan warga mulai dari menanam sampai hasil panen di kebun atau diladang. Menurut penyampaian beberapa tokoh adat setempat bahwa biasanya setiap ada ritual adat termasuk etu, wajib diselengarakan di depan sa’o  waja (rumah adat) sebagai pusat kebudayaan masyarakat setempat. Yang dimana ditengah kampung adat atau rumah adat sa’o waja terdapat peo, yakni kayu bercabang dua yang dipancang pada tugu bundar dari batu bersusun. Peo ini melambangkan persatuan masyarakat Boawae yang merupakan turunan dari lima suku, yakni suku Deu, Tegu, Mudi, Kobajawa dan Kisa Ola.

Tinju Adat (Etu) Kabupaten Nagekeo
Tinju Adat (Etu) Kabupaten Nagekeo

 

Peo (Kayu Bercabang)
Peo (Kayu Bercabang) Melambangkan Persatuan Masyarakat Kabupaten Nagekeo

 

Selanjutnya Kabupaten Nagekeo memiliki kebudayaannya seperti rumah adat sa’o waja.  Sa’o Waja, jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia, sa’o yang berarti rumah dan Waja yang berarti adat maka secara harfiahnya “Sa’o Waja” berarti rumah adat. Rumah adat atau kampung tradisional ini ada terdapat dibeberapa daerah seperti di kecamatan boawae yakni kampung boawae, kampung olaewa, dan lainnya. Sedangkan di kecamatan Aesesa Selatan yakni kampung/desa tutubadha. Itu adalah beberapa kampung yang masih menjadi kampung tradisional dimana masih terdapat rumat adat/sa’o waja dan dijaga kelestariannya sampai sekarang.  Rumah adat ini dibangun dengan beberapa bahan seperti kayu untuk tiang rumah, daun lontar untuk atap serta bambu untuk dinding. Rumah adat ini dahulunya dibangun dengan kontruksi berkolong. Ruang dalam terbagi atas beberapa bagian. Pada ruang tenda atas diletakkan tanduk-tanduk kerbau dimana tanduk-tanduk ini menempel di dinding. Ruang depan berukuran agak luas digunakan para tetua adat suku untuk melakukan pertemuan. Serta beberapa tempat lainnya digunakan untuk menyimpan peralatan makanan dan bahan persembahan bagi arwah nenek moyang.

Sa'o Waja (Rumah Adat) Kab. Nagekeo
Sa’o Waja (Rumah Adat) Kab. Nagekeo

Selain rumah adatnya, nagekeo tentu memiliki kain tenun ikatnya. Kain tenun ikat Kabupaten Nagekeo terdiri dari 3 Jenis, yaitu Hoba Nage, Ragi Woi dan Dawo. Orang Keo Tengah biasa menyebutnya dengan Dawo Nangge, Ragi Woi dan Dawo Ende. Hoba Nage atau Dawo Nangge merupakan kain tenun ikat yang dibuat dengan ikatan tali pada bebang kemudian dicelup dalam campuran warna sebelum ditenun. Tenunan Hoba Nage berasal dari wilayah sekitar kecamatan Boawae, salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Nagekeo. Lalu motif kain tenun ikat satunya lagi yakni Ragi Woi. Proses pembuatannya dimana bebang warna disisipkan seperti menyulam pada saat menenun. Untuk ragi woi berasal dari wilayah Mbay dan Tonggo yang biasa disebut Duka Bay (Ragi Bay) dan Duka Tonggo. Duka bay (ragi bay) dan duka tonggo terkenal dengan pola-pola wajit dan matahari  berwarna kuning dan merah menyala diatas dasar hitam atau biru legam. Sedangkan Duka Tonggo Untuk tenunan yang berasal dari pesisir selatan di Tonggo, Maunura, Maundai, Mauromba. Kain tenun ikat motif nagekeo selanjutnya yakni dawo ende. Dawo ende ini dibuat dengan diberikan pola dan dicelup sebelum ditenun. Kain ini disebut dawo Ende karena umumnya ditenun di wilayah Ende. Kebiasaan menenun ini masuk ke wilayah pesisir selatan Nagekeo karena banyak wanita dari pulo Ende atau dari wilayah “Ende khususnya yang beragama Islam menikah dengan penduduk setempat di kabupaten Nagekeo. Hasil tenun dawo Ende dikhususkan untuk kaum wanita.

Kain Tenun Hoba Nangge- Nagekeo
Kain Tenun Hoba Nangge- Nagekeo

 

Kain Tenun Ragi Woi Nagekeo
Kain Tenun Ragi Woi Nagekeo

 

Kain Tenun Dawo Ende Nagekeo
Kain Tenun Dawo Ende Nagekeo

Selain tinju adatnya (etu), rumah adat (sa’o waja) maupun kain tenunnya yakni hoba nage, ragi woi dan dhawo ende ada lagi kebudayaan Kabupaten Nagekeo yakni tarian adatnya. Tarian adat dari kabupaten nagekeo ada beberapa yakni tarian Tea Eku, Todagu, Tarian Enagera, Tarian Dero, Tarian dengan musik Ndoto, Tarian Etu dan lainnya. Tarian adat Nagekeo sebenarnya hanya beberapa saja namun seiring perkembangan zaman dan berbagai macam kebutuhan masyarakat nagekeo mulai dari upacara adat, hasil panen, kebun, laut, maupun dalam upacara penyambutan tamu kehormatan dan lain sebagainya sehingga dibuat kreasi dengan berbagai macam bentuk tarian. Masyarakat nagekeo dan pemuda milenial harus bersyukur dan melestarikan warisan para leluhur ini.

Tarian Adat Tea Eku Nagekeo
Tarian Adat Tea Eku Nagekeo

Itulah beberapa kekayaan budaya dari Kabupaten Nagekeo ini, walaupun berumur masih muda tapi kekayaan budayanya sangat banyak. Mulai dari tinju adatnya (etu), rumah adat (sa’o waja), kain tenun adatnya, maupun tarian adatnya. Sebagai generasi milenial, kita perlu melestarikan dan menjaganya dengan baik agar kebudayaan ini lambat laun bukan hanya sekadar nama namun sudah menjadi tradisi yang tidak bisa dilepaskan dari peninggalan atau warisan para leluhur. Saya sebagai anak muda dan orang asli nagekeo sangat bersyukur atas kekayaan budaya Kabupaten Nagekeo ini. Sudah saatnya pemerintah untuk bekerja sama dengan berbagai macam elemen masyarakat untuk menghargai, memberikan penghargaan, menjaga, melestarikan serta memperkenalkan kebudayaan Kabupaten Nagekeo kepada masyarakat sekitar, luar nagekeo dan seluruh NTT bahkan Seluruh Indonesia.

Sehingga dengan begitu banyak para pengunjung/wisatawan baik dari dalam nagekeo, luar nagekeo untuk bisa berkunjung ke Kabupaten Nagekeo ini. Alhasil, masyarakat jadi terbantu dengan adanya wisatawan yang datang karena bisa memberikan pendapatan untuk mereka semua dan Pendapatan Asli Daerah untuk Kabupaten Nagekeo pada khususnya dan Propinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya. Ayo kita sebagai generasi muda untuk mulai sekarang cintailah kebudayaan kita jangan hanya jadi penonton tapi jadilah penggerak dan pelaku sejarah itu. Mari kita sama-sama jaga dan lestarikan budaya ini. Salam To’o Jogo Waga Sama (Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing).

Author: Nur Fahrin Saputra MT

Blogger, Penulis, Suka Berbisnis, Belajar Investasi, Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Mahasiswa Aktif Universitas Muhammadiyah Kupang Saya orangnya suka belajar hal baru yang bermanfaat  

19 Replies to “Kekayaan Budaya Kabupaten Nagekeo”

  1. NurulRahma says: June 29, 2021 at 7:43 am

    beberapa waktu lalu ikut event Flobamora via zoom, dan terpukau dgn keindahan produk UMKM di bidang busana
    Super keren, NTT! Terus berkiprah ya

    1. Nur Fahrin Saputra MT says: July 18, 2021 at 5:53 pm

      Makasih atas supportnya kak, semoga produk UMKM dibidang busana adat daerah terutama NTT dan yang ada di Indonesia bisa sukses di tingkat nasional bahkan internasional. Sebagai upaya untuk menambah pendapatan ibu-ibu/mama-mama penenun kain adat, busana adata daerah. Amin. 🙂 🙂

  2. falah bayhaqi says: June 29, 2021 at 2:01 pm

    pesona alamnya bagus banget masih alami, suka banget sama kain tenunnya

    1. Nur Fahrin Saputra MT says: July 18, 2021 at 5:50 pm

      Iyah kak, alamnya disini masih sangat alami kak, indah dan seger udaranya. Ditambah kalau pose menggunakan kain tenunnya, kerennya berlipat ganda, hehe

  3. Tukang jalan jajann says: June 29, 2021 at 3:53 pm

    Adat dan budaya memang tak bisa kita tinggalkan. budaya yang membangun bangsa ini harus diperkenalkan pada pelancong dan anak bangsa sebagai penerus

    1. Nur Fahrin Saputra MT says: July 18, 2021 at 5:47 pm

      Betul sekali kak, sebagai generasi bangsa kita perlu memperkenalkan kekayaan budaya daerah kita kepada tourist atau pelancong agar bisa terus dilestarikan dan sebagai tanda terima kasih atas peninggalan lelulur akan kekayaan budayanya kepada kita 🙂

  4. T. Retno says: June 30, 2021 at 1:41 am

    Kain tenunnya cantik-cantik. Andai bisa nih, rasanya pengen mengoleksi kain-kain tenun dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk NTT.

    1. Nur Fahrin Saputra MT says: July 18, 2021 at 5:44 pm

      Wah boleh juga tuh kak, disamping mengoleksi kain tenunnya juga sekalian mencintai dan melestarikan kain tenun adat setiap daerah di indonesia terutama NTT 🙂

  5. Ghozali Q says: June 30, 2021 at 2:24 am

    Wah baca artikel ini jadi ingin berkesempatan berkunjung ke Kabupaten Nagekeo, berkeliling untuk mempelajari budaya dan adat istiadatnya. Dan tentu juga bisa pulang membawa kain tenun yang cantik itu

    1. Nur Fahrin Saputra MT says: July 18, 2021 at 5:42 pm

      Wah makasih kak, Ditunggu kedatangannya ke kabupaten nagekeo yah kak, hehe

  6. Avizena Zen says: June 30, 2021 at 2:57 am

    Wah di Nakegeo Nusa Tenggara Timur cantik sekali. Pengen deh ke sana buat beli kain tenun ikat.

    1. Nur Fahrin Saputra MT says: July 18, 2021 at 5:41 pm

      Ayo kak ke kabupaten nagekeo, kalau kaka kesini, aku bakal kasih oleh-oleh kain tenun adatnya sebagai kenang-kenangan 🙂

  7. Avizena Zen says: June 30, 2021 at 2:57 am

    Ralat: maaf typo maksudnya Nagekeo

  8. Siti Mustiani says: June 30, 2021 at 8:58 am

    Senang sekali dan selalu suka dengan artikel yang mengangkat soal budaya dan kearifan lokal terutama masyarakat Indonesia. Duuh jadi pengen ke NTT.

    1. Nur Fahrin Saputra MT says: July 18, 2021 at 5:40 pm

      Wah makasih banyak yah kak. Ditunggu kedatangannya ke NTT 🙂

  9. Aisyah Dian says: June 30, 2021 at 11:30 am

    Kain tenunnya indah sekali ya kak elegant gitu. Kekayaan. Budayanya benar-benar membanggakan ya

    1. Nur Fahrin Saputra MT says: July 18, 2021 at 5:39 pm

      Iyah kak, sebagai generasi muda apalagi generasi asal daerah nagekeo,kami sangat bangga dengan kekayaan budaya kabupaten nagekeo mulai dari kain tenunnya, rumah adat, tarian adatnya, dll. Budaya ini harus terus dilestarikan terutama untuk generasi muda atau generasi milenial 🙂 🙂

  10. Naqiyyah Syam says: July 2, 2021 at 4:35 pm

    Penasaran banget dengan kain tenunnya itu pasti ada makna tiap motifnya ya. Bagus juga lestarikan budaya seperti ini.

    1. Nur Fahrin Saputra MT says: July 18, 2021 at 5:36 pm

      Iyah benar banget kak, setiap motif dari kain tenun adat dari nagekeo memiliki makna tersendiri jika ditelusuri. Sampai sekarang kain tenutn ini masih terus dilestarikan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Budaya Wisata Pantai Kuliner
Budaya Wisata Pantai Kuliner